Polres Tolikara Gelar Patroli Jangka Kaki: Mengembalikan Denyut Keakraban Polisi dan Masyarakat
INFO Tanahmerah– Di tengah gemerlap teknologi dan patroli kendaraan yang serba cepat, Polres Tolikara justru memilih untuk melangkah perlahan. Sabtu (30/08/2025) yang lalu, pemandangan tidak biasa menghiasi kawasan pemukiman dan pusat keramaian di Tolikara. Sekelompok personel polisi, berjumlah sekitar 15 orang, berjalan kaki dengan sikap tegap namun ramah. Ini bukanlah operasi khusus, melainkan Patroli Jalan Kaki yang digagas untuk sebuah tujuan mulia: mendekatkan diri dan membangun kepercayaan dengan hati masyarakat.
Kegiatan yang dipimpin langsung oleh Kasat Binmas Ipda Kasrim S.E., M.M. ini menjadi penanda penting dari pergeseran paradigma Polri, dari penegak hukum yang otoriter menjadi pelindung yang humanis dan dekat dengan warga.
Lebih dari Sekadar Patroli, Ini adalah Strategi Komunikasi
Patroli menggunakan kendaraan seperti sepeda motor atau mobil memang efisien dari segi jangkauan dan kecepatan. Namun, ada jarak yang tercipta, baik secara fisik maupun psikologis. Polisi yang berada di balik kaca mobil atau di atas sepeda motor seringkali terlihat sebagai figur yang jauh dan sulit didekati.
Ipda Kasrim S.E., M.M. memahami betul hal ini. Dalam penjelasannya, ia menekankan bahwa patroli jalan kaki adalah medium interaksi yang paling efektif. “Dengan berjalan kaki, polisi dapat langsung menyapa warga, mendengar cerita mereka, menerima keluhan, serta memberikan imbauan kamtibmas (keamanan dan ketertiban masyarakat) secara lebih humanis,” ujarnya.
Baca Juga: Suara Lantang Mama-Mama Papua Pecah di Depan Mapolresta Sorong
Kata kuncinya adalah “humanis”. Pendekatan ini mengubah polisi dari sekadar “aparat” menjadi tetangga, menjadi pendengar, dan menjadi bagian dari komunitas itu sendiri. Sebuah senyuman, sapaan, atau jabat tangan yang hangat memiliki nilai yang jauh lebih besar dalam membangun citra daripada sekadar lewat dengan sirene meraung.
Menjelajahi Jantung Kehidupan Masyarakat
Patroli ini tidak dilakukan di sembarang tempat. Tim Siaga I secara sengaja memusatkan perhatian pada area publik yang menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat: pasar tradisional, pertokoan, dan jalan-jalan lingkungan.
Pasar tradisional, dengan hiruk-pikuk dan keramaiannya, seringkali menjadi sasaran empuk bagi pelaku kriminalitas seperti pencopetan atau penjambretan. Kehadiran polisi yang berjalan kaki di antara para pedagang dan pembeli menciptakan efek deterren (pencegahan) yang nyata. Pelaku potensial akan berpikir dua kali untuk beraksi ketika melihat seragam polisi berada begitu dekat.
Selain itu, petugas tidak hanya pasif berkeliling. Mereka aktif mengedukasi masyarakat. Imbauan sederhana namun crucial seperti menjaga barang bawaan, waspada terhadap orang mencurigakan, dan pentingnya melapor jika melihat hal anomali, disampaikan dengan bahasa yang santun dan mudah dimengerti.
Sambutan Hangat dari Warga: “Kami Jadi Lebih Tenang”
Kebijakan ini menuai apresiasi positif dari masyarakat Tolikara. Tanggapan dari seorang warga yang diwawancarai mewakili perasaan banyak orang. “Kalau ada polisi lewat, kami jadi lebih tenang. Mereka juga ramah menyapa, tidak seperti yang kami bayangkan sebelumnya,” ungkapnya.
Ucapan “lebih tenang” dan “ramah” ini adalah indikator kesuksesan dari program ini. Rasa aman tidak hanya diciptakan dengan menangkap penjahat, tetapi lebih fundamental lagi, dengan menghadirkan rasa nyaman dan keberpihakan. Ketika masyarakat merasa bahwa polisi ada untuk mereka, bukan untuk dihindari, maka fondasi keamanan yang paling kokoh telah terbangun.
Investasi Jangka Panjang untuk Keamanan yang Berkelanjutan
Patroli jalan kaki oleh Polres Tolikara bukanlah kegiatan insidental. Ipda Kasrim menegaskan bahwa ini akan digencarkan secara rutin, khususnya di titik-titik yang rawan tindak kejahatan.
Ini adalah investasi jangka panjang. Dengan kedekatan emosional, polisi mendapatkan aset terbesar dalam kerja pre-emptif (pencegahan): informasi dari masyarakat. Warga yang sudah merasa nyaman dan percaya akan lebih mudah dan berani untuk melapor atau memberikan informasi tentang hal-hal mencurigakan di lingkungannya. Pada akhirnya, ini menciptakan sistem keamanan yang berjejaring, dimana polisi dan masyarakat menjadi mitra yang bersinergi.
Inisiatif Polres Tolikara ini patut diacungi jempol. Di era dimana jarak antara aparat dan warga seringkali renggang, langkah kecil dengan berjalan kaki justru mampu merajut kembali hubungan yang lebih besar.
Patroli jalan kaki adalah simbol komitmen. Simbol bahwa Polri hadir tidak hanya untuk menegakkan hukum secara tegas, tetapi juga untuk melindungi dengan kelembutan dan mendengarkan dengan empati. Dengan setiap langkah kaki mereka, tidak hanya keamanan yang dijaga, tetapi juga kepercayaan yang dibangun.
Harapannya, tercipta lingkungan Tolikara yang tidak hanya kondusif secara hukum, tetapi juga harmonis secara sosial. Karena pada akhirnya, keamanan yang sejati lahir dari kebersamaan dan rasa saling memiliki antara yang menegakkan hukum dan yang dilindungi oleh hukum.















