Breaking News
"Berita" adalah sajian informasi terkini yang mencakup peristiwa penting, fenomena sosial, perkembangan ekonomi, politik, teknologi, hiburan, hingga bencana alam, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Kontennya disusun berdasarkan fakta dan disampaikan secara objektif, akurat, dan dapat dipercaya sebagai sumber referensi publik.
BRIMO BRIMO BRIMO BRIMO

Suara Lantang Mama-Mama Papua Pecah di Depan Mapolresta Sorong

Suara Lantang Mama-Mama Papua Pecah di Depan Mapolresta Sorong

BRIMO

Suara Hati Mama-Mama Papua: Demo Damai di Sorong Soroti Masalah yang Lebih Dalam

INFO Tanahmerah– Suara lantang lagu-lagu daerah dan gemerisak langkah puluhan perempuan Papua memecah kesibukan Jalan Ahmad Yani, Kota Sorong, pada Jumat (29/8/2025) sore. Di bawah langit yang mulai senja, sekitar pukul 17.12 WIT, sekelompok Mama-Mama Papua berjalan beriringan dengan penuh keteguhan. Mereka bukan membawa amarah, tetapi keberanian yang lahir dari keprihatinan mendalam. Tujuan mereka jelas: Mapolresta Sorong Kota, simbol dari otoritas yang mereka harap dapat mendengar jeritan hati mereka.

Demo yang dipantau langsung oleh TribunSorong.com ini berlangsung dengan unik. Alih-alih teriakan penuh kebencian, para mama ini justru menyanyikan nyanyian sambil saling merangkul tangan, menunjukkan sebuah protes yang berakar pada budaya dan solidaritas khas Papua. Aksi ini adalah gambaran nyata dari keberanian perempuan yang memperjuangkan sesuatu yang sangat mereka sayangi.

Dua Wajah yang Bertolak Belakang: Nyanyian Damai dan Siaga Aparat

Perjalanan damai dari Kompleks Yohan menuju Mapolresta Sorong adalah sebuah parade ketenangan. Namun, suasana berubah drastis begitu mereka tiba di depan gerbang kepolisian. Menyambut mereka, barikade manusia berseragam hitam telah dibentuk. Personel Brimob Polda Papua Barat Daya dan Polda Papua Barat berjaga dalam posisi siaga.

Suara Lantang Mama-Mama Papua Pecah di Depan Mapolresta Sorong
Suara Lantang Mama-Mama Papua Pecah di Depan Mapolresta Sorong

Baca Juga: Ditengah Hiruk Pikuk Kota Karubaga, Patroli Jalan Kaki Polisi Hadirkan Ketenteraman

Aparat keamanan terlihat memegang tameng (perisai) anti-huru-hara dan membawa senjata gas air mata, sebuah perlengkapan standar untuk mengantisipasi eskalasi yang—dalam catatan—tidak terjadi. Tiga unit kendaraan taktis (rantis) serta sebuah kendaraan Trek Dalmas (Pengendalian Massa) disiagakan di lokasi, menciptakan pemandangan kontras antara protes damai dan kesiapan untuk skenario terburuk.

Hingga berita ini diturunkan, massa masih bertahan di area Mapolresta, menunjukkan keteguhan mereka untuk didengar.

Akar Kemarahan: Membaca “Peristiwa di Kompleks Yohan”

Poin kunci dari orasi yang disampaikan para mama adalah soal “peristiwa di Kompleks Yohan, Kota Sorong.” Meski laporan detail tentang insiden spesifik ini masih berkembang, frasa “Kompleks Yohan” sering merujuk pada permukiman atau area hunian yang kerap menjadi titik rawan dalam konteks sosial di Sorong.

Apa yang mungkin terjadi? Analisis dari pola serupa di masa lalu menunjukkan beberapa kemungkinan yang memicu kemarahan para mama:

  1. Kekerasan terhadap Anak Muda: Kemungkinan terbesar adalah penangkapan, penganiayaan, atau bahkan tewasnya anak muda Papua di area tersebut. Para mama, sebagai penjaga keluarga dan masyarakat, seringkali menjadi garda terdepan yang menuntut keadilan untuk anak-anak mereka.

  2. Operasi Keamanan yang Dianggap Melampaui Batas: Operasi penegakan hukum yang berlangsung di Kompleks Yohan mungkin dianggap warga terlalu represif, mengganggu ketenangan, atau tidak sensitif secara budaya.

  3. Ketegangan Sosial Laten: Isu-isu seperti ketimpangan sosial, marginalisasi, dan rasa ketidakadilan yang telah lama mengendap bisa memicu sebuah insiden kecil yang kemudian menjadi pemicu ledakan emosi kolektif.

Protes oleh mama-mama ini bukan tentang insiden tunggal, tetapi tentang puncak gunung es dari rasa frustrasi yang telah menumpuk selama bertahun-tahun.

Mama Papua: Suara Perdamaian yang Paling Lantang

Aksi para mama di Sorong ini bukanlah yang pertama. Dalam sejarah konflik dan ketegangan di Tanah Papua, perempuan—sering dipanggil “mama”—selama puluhan tahun telah memainkan peran krusial sebagai agen perdamaian dan kekuatan moral.

Mereka memprotes dengan cara mereka sendiri: bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kehadiran, nyanyian, dan doa. Keberanian mereka unik. Dalam banyak budaya Papua, perempuan dihormati dan posisi mereka sering kali dianggap mampu meredam eskalasi kekerasan. Aparat keamanan pun biasanya lebih hati-hati dalam menghadapi unjuk rasa yang dipimpin oleh perempuan.

Mereka adalah simbol dari kehidupan sehari-hari: penjual di pasar, ibu di rumah, dan tulang punggung ekonomi keluarga. Ketika mereka turun ke jalan, itu berarti masalahnya telah menyentuh urat nadi paling vital dari masyarakat: keluarga dan masa depan anak-anak.

Melihat ke Depan: Dari Konfrontasi ke Komunikasi

Aksi di Sorong sore itu adalah sebuah pesan yang jelas. Pesannya bukan hanya untuk kepolisian setempat, tetapi juga untuk pemerintah pusat di Jakarta.

  1. Pentingnya Dialog: Negara perlu bergerak melampaui pendekatan keamanan semata. Pembentukan barikade dan persiapan gas air mata adalah reaksi. Yang dibutuhkan adalah aksi pro-aktif berupa dialog yang tulus dan membumi. Para mama dengan nyanyiannya telah membuka pintu untuk percakapan itu.

  2. Transparansi dan Akuntabilitas: Masyarakat membutuhkan kejelasan tentang “peristiwa di Kompleks Yohan.” Transparansi dari aparat tentang apa yang sebenarnya terjadi adalah langkah pertama untuk meredam rumor dan membangun kepercayaan.

  3. Pemberdayaan, Bukan Penindasan: Investasi terbaik untuk perdamaian jangka panjang di Papua adalah melalui pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan—ranah di mana para mama adalah aktor utamanya. Ketika mama-mama sejahtera dan merasa didengar, stabilitas masyarakat akan mengikutinya.

Demo mama-mama Papua di depan Mapolresta Sorong adalah lebih dari sekadar berita sore hari. Itu adalah potret nyata dari ketahanan dan keberanian perempuan Papua yang menolak diam melihat gejolak di tanah mereka. Mereka tidak datang dengan senjata, tetapi dengan suara dan solidaritas.

Meresponsnya dengan tameng dan gas air mata adalah sebuah pilihan. Namun, pilihan yang lebih bijak adalah mendengar lirik di balik nyanyian mereka, memahami kepedihan di balik orasi mereka, dan merespons dengan kebijaksanaan dan empati. Masa depan damai Papua mungkin saja tergantung pada seberapa baik kita mendengarkan suara para mamanya.

Klik Disini